Tampilkan postingan dengan label Daerah Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah Wisata. Tampilkan semua postingan

Sulawesi Selatan: Trans Studio Makassar

Trans Studio Makassar merupakan wahana indoor terbesar di dunia,  dibangun seluas 12,7 hektare , terletak dikawasan wisata terpadu Kota Makassar, Provinsi  Sulawesi Selatan, termasuk obyek wisata terbayak dikunjungi diantara tempat-tempat wisata  Kawasan Indonesia  Timur , sekaligus menjadikan kota Makassar sebagai Wisata Kota termegah.
Trans Studio yang  diresmikan pada 9 September 2009  (Tanggal 09 – 09 – 09, hari bersejarah dimana Trans Studio Makassar secara resmi dibuka).
Fasilitas yang ada dikawasan terpadu ini diantaranya pusat perbelanjaan yang meliputi Trans Walk dan Trans Rodeo Drive, Trans Studio, Trans Hotel, serta kantor Bank . Gedung Trans Studio dibangun seluas 22.000 m² dengan tinggi 20 meter yang merupakan taman hiburan, wahana indoor terbesar di Dunia.
Sebagai Trans Studio World , theme park indoor terbesar di dunia memiliki lebih dari 20 wahana permainan dan dilengkapi berbagai fasilitas antara lain mal, restoran, hotel, dan marina yang semuanya berada dalam satu komplek.
Trans Studio World Makassar berada dalam area Trans Studio Resort yang berlokasi di Kawasan Bisnis Global dan Pariwisata Terpadu Tanjung Bunga, Makassar, Sulawesi Selatan atau berada di pinggiran pantai sebelah Barat kota Makassar ,berjarak sekitar 5 KM dari Lapangan Karebosi (bagian bawah Lapangan Karebosi ada pusat perbelanjaan) sebagai pusat Kota Makassar.
Theme Park Trans Studio World Makassar ibarat Universal Studio dan  Walt disney di California Amerika Serikat . Dilengkapi  ruang-ruang simulasi beberapa program stasiun televisi, Trans TV, atau peristiwa di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Tsunami Island, suasana mencekam dilanda tsunami dan gempa bumi. Magic Museum yang berisi benda-benda hidup , Dunia Lain, Arung Jeram, Magic Corner, Lost City, Terror Twister, dan Water Coaster , zona Studio Central, dan Cartoon City. dan masih banyak lagi.
Theme Park didesain oleh John Stevenson, sutradara Kungfu Panda. Theme Park seluas 2.7 hektar (lebih luas dari  Lotte World Korea dengan luas 1.7 Hektar) dengan kapasitas 5000 orang terdiri atas empat zona dengan 22 wahana permainan.
Suatu pemikiran global yang patut dihargai, yaitu memilih Makassar sebagai lokasi Trans Studio oleh karena Makassar memiliki pertumbuhan Wisata yang sangat pesat / tertinggi di Indonesia, dan Kehadiran mega proyek Trans Studio ini turut membentuk identitas baru kota ini, sebagai magnet di timur Indonesia dan membentuk  imej Wisata Nusantara yaitu “Jawa adalah masa lalu, Bali adalah masa kini, dan Sulawesi adalah masa depan
Tanda Masuk
Studio pass dengan dengan technologi microchip card yang dipakai sebagai alat pembayaran baru pertama kali digunakan di Makassar ( Belum ada wahana di dunia ini yang menggunakan teknologi ini, rencana tahun 2010 ,Disneyland  Orlando, AS, akan menggunakan teknologi ini)
Kartu Studio Pass sebagai pengganti uang, berlaku seumur hidup, dan dapat juga digunakan untuk membeli merchadise atau  kartu tol pra – bayar
Transaksi masuk menggunakan Studio Pass..dengan debet minimal Rp.100.000. (di dalam mata uang tidak berlaku), sudah termasuk Harga Kartu Studio Pass (Dapat digunakan seterusnya) =Rp. 10.000

Papua: Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz adalah sebuah taman nasional yang terletak di provinsi Papua, Indonesia. Dengan luas wilayah sebesar 25.000 km² Lorentz merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara.
Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.
Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain
Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem
Menuju ke Taman Nasional Lorentz yaitu dari kota Timika ke bagian Utara kawasan menggunakan penerbangan perintis dan ke bagian Selatan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma, dilanjutkan dengan jalan setapak ke beberapa lokasi
Musim kunjungan terbaik: bulan Agustus s/d Desember setiap tahunnya.
Flora Dan Fauna
Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.
Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.
Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata.
Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).
Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon
Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN
Taman ini masih belum dipetakan, dijelajahi dan banyak terdapat tanaman asli, hewan dan budaya. Wilayahnya juga terdapat persediaan mineral, dan operasi pertambangan berskala besar juga aktif di sekitar taman nasional ini. Ada juga Proyek Konservasi Taman Nasional Lorentz yang terdiri dari sebuah inisiatif masyarakat untuk konservasi komunal dan ekologi warisan yang berada di sekitar Taman Nasional Loretz ini.
Dari tahun 2003 hingga kini, WWF-Indonesia Region Sahul Papua sedang melakukan pemetaan wilayah adat dalam kawasan Taman Nasional Lorentz. Tahun 2003- 2006, WWF telah melakukan pemetaan di Wilayah Taman Nasional Lorentz yang berada di Distrik (Kecamatan) Kurima Kabupaten Yahukimo, dan Tahun 2006-2007 ini pemetaan dilakukan di Distrik Sawaerma Kabupaten Asmat
Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan.

Papua: Kawasan laut Teluk Cenderawasih

Kawasan laut Teluk Cenderawasih memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tersebar baik di darat, di pulau-pulau maupun di perairan laut sekitarnya. Kawasan inipun memiliki fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan.
Kawasan TNTC membentang dari rangkaian Kepulauan Auri dari arah timur Tanjung Kwatisore di sebelah selatan sampai ke utara di atas Pulau Rumberpon. Tercakup di dalamnya 500 Km garis pantai Pulau Induk Papua dengan terumbu karangnya dan daerah pesisir pantai dan terumbu karang dari ke 18 pulau yang berada di dalam zona inti, zona pelindung dan zona pemanfaatan terbatas. Ke 18 pulau itu adalah: Pulau Nuburi, Pepaya, Nutabari, Kumbur, Anggromeos, Kabuoi, Rorado, Kuwom, Matas, Rouw, Iwaru, Rumarakon, Nusambier, Maransabadi, Nukup, Paison, Numerai, dan Wairundi.
Luas daratan dan perairan dalam kawasan TNTC dapat dirinci sebagai berikut:
Daratan = 68.200 Ha, terdiri dari:
     Pesisir Pantai = 12.400 Ha (0,9%)
     Daratan Pulau-pulau = 55.800 Ha (3,8%)
Perairan/laut = 1.385.300 Ha, terdiri dari
     Terumbu Karang = 80.000 Ha (5,5%)
     Laut = 1.305.300 Ha (89,8%
Tujuan ditetapkannya TNTC adalah untuk memelihara dan melestarikan fungsi kawasan dan untuk mengawetkan keanekaragaman jenis flora dan fauna serta ekosistemnya yang terdapat di kawasan tersebut. Adapun fungsi kawasan TNTC adalah sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, untuk menunjang pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, serta untuk dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam   yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan   sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan   penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang   budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Sistem zonasi   terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona lain   sesuai  dengan keperluan.
Taman Nasional Teluk Cenderawasih dikelola dengan   sistem zonasi. Pembagian zonasi kawasan dapat   dilihat pada gambar/peta dengan uraian singkat   sebagai berikut:
Zona Inti
Merupakan zona perlindungan yang ketat, yang   berfungsi melindungi jenis-jenis dan daerah-daerah   dengan   nilai pelestarian tinggi, seperti habitat dan   species langka atau terancam kerusakan atau   terancam punah;   habitat peka yang lemah terhadap   gangguan; daerah-daerah yang digunakan untuk   melindungi stok perkembangbiakan dari jenis yang   boleh dimanfaatkan, dan contoh-contoh yang masih   baik/utuh dari tipe-tipe   habitat alamiah.
Zona Pelindung
Letak zona pelindung mengelilingi zona inti. Maksudnya adalah untuk melindungi zona inti dan   merupakan penyangga dari kegiatan-kegiatan pada zona-zona lainnya sehingga tidak berdampak langsung pada zona inti.
Zona Pemanfaatan Terbatas
Merupakan daerah pemanfaatan sumberdaya alam oleh penduduk setempat secara tradisional untuk kepentingan hidup sehari-hari maupun oleh pengunjung/pendatang tetapi dengan pengawasan dan pembatasan-pembatasan tertentu sehingga tidak merusak habitat atau mengambil jenis yang dilindungi, langka atau terancam punah.
Zona Penyangga
Merupakan daerah di luar zona-zona tersebut di atas dan diperuntukkan untuk pengamanan dan kegiatan-  kegiatan lainnya. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.185/Kpts-II/1997, organisasi pengelola TNTC adalah Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih(BTNTC). Adapun struktur organisasi dan Tata Kerja Balai ini mengacu pada Keputusan Menteri Kehutanan No. 6186/Kpts-II/2002 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasional.
EKOSISTEM:
Tipe-tipe ekosistem di kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi: ekosistem hutan tropis daratan pulau, ekosistem pantai, dan ekosistem perairan laut yang terdiri dari terumbu karang, padang lamun dan dataran dangkal yang kurang dari 20 meter.
Pada ekosistem pesisir pantai didapati hutan/vegetasi mangrove, antara lain: Rhizophora sp. (Bakau bakau), Sonneratia sp. (Tancang), Avicennia sp. (Api-api), Ceriops sp. (Tingi), Bruguiera sp., Xylocarpus sp., dan Heritiera sp. Kelompok vegetasi demikian ini merupakan habitat yang baik untuk pemijahan jenis, ikan dan udang serta berbagai plankton dan ikan-ikan kecil lainnya.
Pada tipe ekosistem perairan laut terdapat hamparan karang alami yang sangat indah dan luas yang dapat dikelompokkan dalam lima bentuk pokok hamparan, yaitu: terumbu karang yang berbentuk potongan-potongan (Patch Reef), terumbu karang pantai (Fringging Reef), terumbu karang penghalang (Barrier Reef), terumbu karang berbentuk cincin (Atol), dan terumbu karang perairan dangkal (Shallow Water Reef). Terumbu karang tersebut terdiri dari sekitar 67 genera dan sub genera, mencakup 145 jenis karang Scleractinia yang terdapat sampai pada kedalaman 35 meter.
Prosentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30,40 % sampai 65,64 %. Variasi ini dipengaruhi antara lain oleh tingkat intervensi masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam.
Ekosistem terumbu karang umumnya terbagi menjadi dua zona, yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope). Zona rataan terumbu pada sisi sekat garis pantai didominasi oleh substrat pasir dan lamun. Pada zona ini dapat dilihat beberapa jenis karang terutama dari keluarga Porites, Acropora, Poccilopora, dan Favites. Pada beberapa pulau, pada zona rataan terumbu dapat dilihat: koloni karang biru (Heliopora coerulea), karang hitam (Antiphates sp.), famili Faviidae dan Pectiniidae, serta berbagai jenis karang lunak.
Zona lereng terumbu di kawasan TNTC terdiri dari dua tipe, yaitu: lereng terumbu yang landai dan yang berbentuk tubir (drop-off). Pada zona lereng terumbu ini terdapat jenis-jenis karang, antara lain: Leptoseris spp., Montiphora spp., Oxyphora spp., Mycedium elephantathus dan Piristesrus. Hamparan-hamparan karang tersebut merupakan habitat, tempat berlindung dan pembiakan berbagai jenis ikan dan molusca yang hidup menempel pada terumbu karang tersebut.
Selain itu juga menjadi tempat pencaharian makanan bagi berbagai jenis penyu, lumba-lumba, duyung, dan aneka jenis ikan lainnya [indopolistcom]
Teluk Cendrawasih memiliki 14 jenis flora yang dilindungi. Sebagian besar terdiri dari jenis pohon kasuarina. Selain itu, di taman nasional ini juga terdapat 36 jenis burung, di mana 18 di antaranya dilindungi. Terdapat pula 196 jenis moluska, 209 jenis ikan, dan beberapa penyu (penyu sisik, hijau, belimbing, dan sisik semu). Wilayah ini juga merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi paus dan lumba-lumba. Kedua jenis hewan ini dapat tinggal dengan tenang di sini karena tidak ada pemburu paus ataupun lumba-lumba, serta masih berlimpahnya makanan yang disediakan Teluk Cendrawasih bagi mereka.
Datang ke Teluk Cendrawasih, pengunjung dapat menikmati beragam objek menarik yang bertaburan di seluruh penjuru Taman Nasional ini. Jika ingin melakukan wisata bahari, Pulau Nusrowi, Pulau Yoop, dan Pulau Mioswaar dapat menjadi pilihan yang menarik. Di perairan pulau-pulau ini, pengunjung dapat menikmati keindahan bawah laut yang penuh warna dan kaya objek yang menggoda mata dengan menyelam. Selain itu, pengunjung juga dapat mengamati perilaku ikan paus dan lumba-lumba.
Jika ingin menjelajahi gua, kunjungi saja Pulau Mioswaar. Di sini terdapat gua alam peninggalan zaman purba dan juga sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam. Gua ini merupakan gua bersejarah karena di dalamnya terdapat kerangka leluhur etnik Wandau. Konon, merekalah kelompok manusia pertama yang datang ke pulau ini. Di Pulau Numfor, juga terdapat sebuah gua yang di dalamnya terdapat tengkorak manusia serta piring-piring antik dan peti-perti berukir. Apabila menginginkan yang sedikit berbeda,  cobalah untuk mendatangi Tanjung Mangguar. Di sini, terdapat gua dalam air dengan kedalaman 100 kaki.
Selain itu, masih ada Pulau Rumberpon yang menawarkan berbagai pengalaman menarik. Di pulau ini, pengunjung dapat melakukan pengamatan terhadap burung, penangkaran rusa, wisata bahari, dan juga dapat melihat kerangka pesawat tempur Jepang yang tenggelam saat perang dunia II.
Secara administratif, Taman Nasional ini berada di wilayah Kabupaten Manokwari, Propinsi Papua Barat, dan Kabupaten Paniai, Propinsi Papua, Indonesia.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih dapat dicapai melalui Manokwari ataupun dari Nabire (Ibukota Kabupaten Paniai). Dari Manokwari ke lokasi Taman Nasional yang berjarak sekitar 95 km dapat ditempuh dengan beberapa cara. Pertama, pengunjung dapat menggunakan kapal motor yang datang tiga kali seminggu dengan lama perjalanan 2,5 jam. Kedua, pengunjung juga dapat menggunakan motor tempel dengan waktu tempuh sekitar 6—10 jam, atau menggunakan kapal perintis PELNI dengan lama perjalanan antara 18—20 jam. Kapal PELNI biasanya singgah ke taman nasional ini sekali dalam sebulan. Ketiga, pengunjung juga dapat menumpang pesawat jenis Twin Otter milik Merpati Nusantara atau Cesna milik MAF. Namun, setelah perjalanan udara, perjalanan selanjutnya tetap harus dilanjutkan dengan motor tempel selam 3—4 jam.
Sementara itu, jika melalui Nabire, pengunjung akan menempuh jarak 38 km untuk mencapai Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Dari sini, pengunjung dapat menggunakan perahu motor dengan waktu tempuh 2—6 jam (bergantung pada jenis perahu motornya).
Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket untuk memasuki Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Hanya saja, apabila pengunjung ingin menjalajahi Teluk Cendrawasih dianjurkan melapor ke Balai Taman Nasional Teluk Cendrawasih (BTNTC) di Kota Manokwari untuk mendapatkan Surat Izin Masuk Lokasi (Simaksi). Sementara itu, bagi wisatawan mancanegara diharuskan memperoleh izin masuk dari Departemen Kehutanan.
Di kawasan ini belum tersedia fasilitas pariwisata seperti Dive Center, penginapan, ataupun resort. Namun, untuk pengunjung yang ingin menginap dapat menggunakan pondok wisata BTNTC di Distrik Rumberpon atau di rumah-rumah penduduk. Bagaimana mekanisme untuk mendapatkan tempat penginapan tersebut dapat langsung menghubungi BTNTC. Jika dirasa membutuhkan pemandu untuk menjelajahi Taman Nasional Teluk Cendrawasih, sertakan keinginan tersebut dalam surat permohonan izin ke BTNTC. Nantinya, pihak BTNTC yang akan memberikan/menunjuk pendamping [sumber:wisata-voucher-hotel.com]

Sulawesi Tengah: Danau Poso

Danau Poso, tepatnya berada di Tentena Kabupaten Poso – Sulawesi Tengahyang terletak di ujung utara Danau Poso mempunyai alam desa yang indah dan menawan, Danau yang tenang dan luas tempat peternakan ikan belut , ikan Sidat atau Sogili terbesar di Dunia, bisa sampai 2 mtr, dikelilingi alam perbukitan yang ditumbuhi tanaman cengkeh. Pada saat cengkeh berbunga (bulan Juni hingga November) pohon cengkeh akan mengeluarkan aroma harum bunga cengkeh.
Sekitar danau masih dikawasan Desa Tentena, ditemukan Gua yang cukup dalam, sampai ke dasar danau.
Disesa Bancea , desa dipesisr pantai danau dapat ditemukan Pelestarian Angrek terbesar di Indonesia yang ditemukan Angrek Hitam yang sangat khas dan hanya ada di daerah ini.
Beberpa kilometer dari tentena di temukan Air terjun Salu Opa dan tempat pembuatan Sovenir Kayu Ebony.
Pada pertengahan tahun sembilan puluan Danau ini pernah menjadi Agenda Wisata Dunia yang dikenal dengan Festival Danau Poso.

Danau Poso Danau Poso

Sulawesi Tengah: Air terjun Wera dan Air Panas Montikole

Air terjun Wera dan Air Panas Montikole merupakan obyek wisata Alam yang sangat memikat di Kabupaten Donggala – Sulawesi Tengah
Air Terjun Wera Donggala
Air Terjun Wera DonggalaAir terjun Wera terletak di ketinggian 100 mtr berada di Desa Balumpewa  Kabupaten Donggala , ± 1 Km dari jalan raya poros Palu-Donggala. Selain itu terdapat juga Permandian Air Panas Montokole yang terletak  ± 2 Km sebelah Selatan Taman Wisata Wera .
Daya tarik Air terjun Wera  antara lain Mandi/berenang di Sungai Wera ,Mendaki gunung kearah puncak bukit menuju air terjun yang dikelilingi dengan pemandangan yang indah, Camping (Berkemah) di daerah datar pada bagian Utara dan di puncak bukit .Flora dan fauna terutama Ayam Hutan, serta kehidupan masyarakat sekitarnya
.
Air Panas Montokole Donggala
air panas montikole
Mandi di pancuran Air Panas Montokole Donggala , terasa nikmat terlebih lagi usai mandi dari sungai Pemma yang dingin.
Sungai Pemma memiliki air yang sangat jernih, dipadu dengan adanya bebatuan yang cukup besar memberikan suasana yang lebih alami. Ketika air yang jernih itu bertabrakan dengan bebatuan yang ada di tengah sungai, menghasilkan buih putih yang cantik dan indah dalam pusaran air.
.

Sulawesi Barat: Pantai Dato

Pantai Dato adalah salah satu obyek wisata alam yang sangat menarik di Majene Sulawesi Barat , selain itu ditemukan juga obyek wisata alam lainnya seperti  Puncak Salabose, Pantai Barane, Air terjun Malle, Pantai Baluno, Pantai Pacitan, Air Terjun Limboro, Pasir Putih Bonde bonde, Permandian Air Panas Makula serta Obyek wisata sejarah Makam Raja-raja Banggae.
Pantai Dato Indotimnet 
Pantai Dato, Majene terbagi 2 bahagian yaitu pantai yang berpasir putih dan pantai beralaskan karang. Karang yang menjorok kelaut atau karang yang berlubang karena hantaran ombak menambah keunikan dan keindahan pantai dato, Meniti pinggiran tebing menuju puncak karang merupakan suatu tantangan yang sangat mengasikan. dari puncak karang kira2 ketinggian 20 Mtr, melongok kebawah sampai penembus permukaan air laut yang sangat jernih untuk melihat ikan yang bermain diantara terumbu karang. Pada senja hari tampak matahari kembali ke peraduannya di balik bukit nun jauh. Sangat indah, tapi sayang , lokasi ini nampaknya belum menjadi perhatian dari pemerintah setempat (2009).
Menuju kelokasi ini menggunakan kendaraan darat pribadi atau carteran , kira 15 menit dari kota Majene. Jalannya cukup mulus, menyisir hutan kecil dan kebun para penduduk. Sampai di tempat parkiran menuju pantai harus menuruni tebing setinggi 30 meter melalui anak tangga batu.
Pasir Putih Bonde-bonde
Permandian Air Panas Makula di Kecamatan Sendana
Permandian Air Panas dengan lokasi yang sangat nyaman karena berada dibawah rindang pepohonanan, Selain itu airnya dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit dan menyegarkan badan
Air Terjun Limboro
Desa Tallu Banua Kecamatan Sendana yang memiliki panorama alam yang indah
Pantai Pacitan di Pangaliali Kecamatan Banggae, Wisata Bahari Pantai Pacitan sangat representatif untuk menikmati indahnya sunset dan aktivitas nelayan penangkap ikan,
Pantai Baluno di sedana Wisata Pantai lengkap dengan sarana penunjang seperti warung makan yang beroperasi selama 24 jam dan penginapan yang cukup representatif,
Air terjun Malle di Kelurahan Baruga Dhua Kecamatan Banggae Timur Air terjun dengan pemandangan yang indah, dengan udara yang sejuk dan bersih,
Puncak Salabose
Pantai Barane Pantai Pasir Putih dengan panjang pantai yang landai serta cukup nyaman untuk bersantai, berenang di laut maupun aktifitas lainnya
Makam Raja-raja Banggae,  Kompleks makam raja – raja banggae terletak di puncak bukit, selain melihat makam raja – raja di lokasi ini juga bisa menikmati pemandangan kota Majene dengan hamparan laut birunya.
Atraksi wisata seperti Lomba Perahu Sandeg, Upacara Adat Mandar, Tarian Etnis Mandar-Majene, Pelayaran Rakyat dan pembuatan minyak kelapa mandar di Kabupaten Majene Sulawesi Barat

Sulawesi Tengah: Hutan Lindung Marowali

Hutan Lindung Marowali, Lokasi tepatnya di Kabupaten Marowali Provinsi Sulawesi Tengah. Perjalanan ke kawasan ini hanya dapat ditempuh dengan perahu motor dari Kolonodale (Marowali)
Sekitar Hutan Lindung ini di darat dihuni oleh penduduk Asli Suku Wana yang masih sangat terkebelakang, sedangkan dipesisir pantai / diatas permukaan laut di huni oleh suku Bajoe.
Berbagai satwa Hutan Lindung Marowali yang tidak ada duanya ditempat lain yaitu  Anoa, Kelelawar Raksasa dengan bentangan sayapnya sampai 2 meter 
Luas hutan lindung Marowali 436.756 ha, hutan suaka alam dan wisata 241.331 ha dan kawasan budidaya yang terdidri dari hutan produksi 480.759 ha serta Areal Penggunaan Lain (APL) 417.226 ha. Jenis potensi yang ada didalamnya meliputi hasil hutan kayu antara lain : kelompok meranti, rimba campuran, kelompok kayu indah seperti jati dan cempaka serta terdapat pula kelompok kayu mewah seperti eboni / kayu hitam (Dyospiros Celebica Bakh) yang termasuk salah satu kayu langka di dunia. Adapun hasil hutan lainnya (non Kayu) antara lain damar, kemiri, calapai serta berbagi jenis rotan, yang kesemuanya merupakan potensi kekayaan daerah yang tak ternilai.
Kembali ke Wisata Sulawesi Tengah
Batu Apung Marowali Batu Apung Marowali 
Pesisr pantai Hutan Lindung Marowali Pesisr pantai Hutan Lindung Marowali 
Rmah diatas laut suku Bajoe Rmah diatas laut suku Bajoe 
Rumah Suku Wana Pinggiran Hutan lindung Marowali Rumah Suku Wana Pinggiran Hutan lindung Marowali 
 
Sumber: http://indotim.net/wisata-sulawesi/wisata-sulawesi-tengah/hutan-lindung-marowali/

Sulawesi Utara: Taman Laut Bunaken

Taman Laut Bunaken , sebagai obyek wisata bahari di Sulawesi Utara adalah bahagian dari Taman Nasional Bunaken, dan salah-satu pulau yang termasuk dalam taman laut ini ialah Pulau Bunaken , seluas 8,08 km² , tepatnya di Teluk Manado, yang terletak di utara pulau Sulawesi. Pulau ini merupakan bagian dari kota Manado, ibu kota provinsi Sulawesi Utara.
Pulau Bunaken dapat di tempuh dengan kapal cepat (speed boat) atau kapal sewaan dengan perjalanan sekitar 30 menit dari pelabuhan kota Manado.
Taman laut Bunaken memiliki biodiversitas kelautan salah satu yang tertinggi di dunia. Selam scuba menarik banyak pengunjung ke pulau ini. Secara keseluruhan taman laut Bunaken meliputi  lima pulau yang berada di dalamnya, yakni Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen. Lokasi penyelaman (diving) hanya terbatas di masing-masing pantai yang mengelilingi kelima pulau itu.
ph1039587954029448148
Taman laut Bunaken memiliki 20 titik penyelaman (dive spot) dengan kedalaman bervariasi hingga 1 kilo meter. Dari 20 titik selam itu, 12 titik selam di antaranya berada di sekitar Pulau Bunaken. Dua belas titik penyelaman inilah yang paling kerap dikunjungi penyelam dan pecinta keindahan pemandangan bawah laut.
Sebagian besar dari 12 titik penyelaman di Pulau Bunaken berjajar dari bagian tenggara hingga bagian barat laut pulau tersebut. Di wilayah inilah terdapat underwater great walls, yang disebut juga hanging walls, atau dinding-dinding karang raksasa yang berdiri vertikal dan melengkung ke atas. Dinding karang ini juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan di perairan sekitar Pulau Bunaken  [Wikipedia 21-08-2009]

Sulawesi Tengah: Pantai Talise

Pantai Talise – Palu – Sulawesi Tengah merupakan obyek wisata pantai dengan memiliki panorama alam yang indah hamparan teluk dan pegunungan yang begitu mempesona. Selain itu, pantai ini sangat cocok untuk kegiatan olah raga, seperti: berenang, selancar angin (wind surfing), sky air, menyelam, memancing, dan lain sebagainya
 
Pantai Talise sebagai tempat tamasya adalah pilihan yang paling murah dan mudah karena selain tidak memerlukan biaya, lokasinya teramat mudah untuk dicapai yaitu ditengah kota dan akses jalan yang sudah teraspal .
Keberadaanya yang dekat dengan pusat kota menjadikan pantai ini banyak dikunjungi oleh pendatang maupun masyarakat Palu sendiri. Berkunjung di siang hari agak kurang cocok, karena cuaca di Palu umumnya terik dan angin bertiup sangat kencang saat jam 12 siang lewat.
Pemandangan indah di Pantai Talise saat matahari menjelang terbit. Pantai ini enak dikunjungi saat sore hari menjelang matahari terbenam dan saat sore sambil menikmati makanan kecil dan minuman berupa pisang goreng, pisang eppe, jagung, teh/kopi, sarabba.  Disore dan malam hari juga dijadikan tempat rekreasi keluarga dan kaum muda-mudi

Maluku: Wisata Bahari Laut Banda

Wisata Bahari Laut Banda
Lokasi taman laut  Banda terletak di antara Pulau Neira, Pulau Gunung Api, Pulau Ai, Pulau Sjahrir  dan Pulau Hatta. Tepatnya terletak di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan menumpang kapal feri dari kota  Ambon selama satu malam.
pulau bandaKegiatan wisata bahari di perairan Banda beraneka ragam, seperti melihat taman laut dari  atas perahu, menyelam, memancing ikan tuna dan cakalang, melihat ikan paus,  lumba-lumba, termasuk berbagai jenis ikan dan kerang purba yang saat ini disuakakan seperti ikan Napoleon, burung laut yang berenang dan terbang dekat serta menyaksikan Arombai Manggurebe (Lomba Belang atau balap perahu) dari pantai.
Acara yang tak kalah menarik lainnya adalah acara timba uli yang bisa disaksikan setiap tahun dua kali yaitu pada bulan Maret dan April pada menjelang malam bulan 15 hari (dilangit) pukul 17.00 sampai dengan 20.00 WIT. Timba uli adalah “pesta laut” masyarakat Banda untuk menangkap hewan laut sejenis ulat laut berwarna hijau yang panjang (menyerupai benang) dan berbulu. Pada acara ini, berhamburan masyarakat Banda ke pantai, laki dan perempuan, tua dan muda.
Dengan mambawa alat tangkapan uli (alat tangkap uli) menyerupai serok (bahasa Jawa Timuran) terbuat dari kain halus dan berbagai jenis lampu, menunggu keluarnya uli dari dasar pantai pesisir laut kemudian ditangkap. Hasil tangkapan uli kemudian dimasak dengan bumbu khusus kemudian menjadi sajian khas, lezat dan bergisi tinggi yang dimakan dengan sagu atau singkong rebus
Musim kunjungan sebaiknya pada pada musim teduh (musim laut tidak berombak), yang  terjadi pada bulan Maret, April, Mei, September, Oktober dan Nopember. wisatawan dapat mencoba sendiri  menggunakan alat pancing untuk menangkap ikan tuna dan cakalang.
Jasa pelayanan guide  dapat membantu wisatawan untuk menggunakan alat-alat pancing, sekaligus  menjelaskan proses penangkapan ikan cakalang yang dilakukan oleh nelayan.       
Di Pulau Banda terdapat  banyak toko yang menjual berbagai souvenir, seperti miniatur kapal dalam botol,  anyaman bambu alat memetik pala dan benda-benda replika peninggalan Belanda dan  Portugis. Terdapat pula beberapa guest house yang disewakan untuk menginap
Meyelam di Kepulauan Banda
Kepulauan Banda  adalah salah satu tempat yang paling indah untuk menyelam di Indonesia. baik yang sudah ahli menyelam maupun pemula ,menyelam Mulai dari Banda Neira ke tembok vertikal di Pulau Hatta. Ketika menyelam kadang-kadang terlihat ikan hiu, penyu, ikan tuna, lobster dan baraccuda besar. Pulau Banda merupakan grup pulau-pulau vulkanik kecil di Laut Banda, sekitar 140km sebelah selatan pulau Seram dan sekitar 2000km timur Jawa, dan merupakan bagian dari provinsi Maluku. Pusat administratif  Bandanaira, terletak di pulau Pulau Banda
Tempat untuk Menyelam di Pulau Banda.
Sonegat: Ini adalah tempat terdekat untuk menyelam. sekitar 5 menit dari pantai. Lokasi Sonegat yaitu laut antara Banda Neira dan Gunung (Gunung Api).
Keraka Island: Keraka Island atau beberapa orang mengatakan pulau Kepiting. ibarat sebuah karpet pasir terhampar di pantai utara sebuah tempat yang sangat indah untuk piknik. Di bagian selatan pantai ada beberapa dinding setinggi 18 meter yang ditutupi oleh tunicata biru dan kuning . Di sebelah timur pantai, Anda bisa melihat di kedalaman 10 meter, berbagai ikan batu karang dan sekelompok barracuda.
Sjahrir Island dan The Kapal Stone: atau yang sebelumnya dikenal sebagai Pulau pisang dan Batu Kapal hanya 20 menit dari  Banda-Neira dengan menggunakan perahu. Ini dua tempat yang baik untuk kegiatan menyelam di pagi hari, dan kegiatan menyelam di sore hari.
Lontar Island: semacam pagar paling luar dari Pulau-pulau, bagian pinggiran kaldera cekung, tempat yang baik untuk merpati.
Batu Belanda: di tempat ini, Anda akan menemukan beragam barrel dan tube sponge, dan gua-gua kecil dan celah. Ikan yang berada di daerah ini sangat bervariasi dan beragam: sekelompok snappers, besar Kaisar, dan biru-girdled angelfish, wrasses.
A i Island: pulau ini menawarkan tempat menyelam terbaik di Pulau Banda. Baik di pantai utara dan selatan dan barat dari Pulau Ai, dikelilingi dengan tembok karang yang sempurna. Sangat beautifull
Hatta Island: Pulau Hatta hanya 25 Km Pulau Banda-Neira. Sebuah karang bisa berada di bawah permukaan air laut yang ditemukan beberapa ratus meter dari sebelah selatan Pulau Hatta. Untuk sebuah karang yang muncul ke permukaan bumi, Anda dapat melihat parade dari unicornfish, Fusiliersm Jack Fish, dan Rainbow Runners, sering tampak Whitetip Sharks.

Maluku: Benteng Tolukko


Resize of Ternate (0) 
Benteng yang mula-mula dikenal dengan nama Tolukko dan kemudian lebih dikenal dengan nama Benteng Hollandia ini, dibangun pada tahun 1540 oleh Francisco Serao, seorang panglima Portugis.
Ada yang mengatakan bahwa nama Tolukko adalah nama dari penguasa kesepuluh yang duduk di singgasana Ternate: Kaicil Tolukko; namun karena Sultan ini baru memerintah di tahun 1692 maka tidak mungkin nama benteng ini diberikan mengikuti nama Sultan tersebut. Menurut catatan sejarah Belanda, di tahun 1610 benteng Portugis tersebut diperbaiki oleh Pieter Both, seorang Belanda, dan dimaksudkan sebagai pertahanan terhadap bangsa Spanyol yang memang sedang sibuk menggempur pulau Ternate.
.
Resize of Ternate (88)
 Benteng ini juga dijadikan sebagai tempat untuk menggiring rakyat yang melarikan diri dari serangan Spanyol agar mau kembali tinggal di tempat ini. Saat itu sebagian besar rakyat melarikan diri ke Benteng Malayo. Pada tahun 1612, dilaporkan terdapat 15 hingga 20 tentara di dalam benteng ini, yang dilengkapi dengan sejumlah persenjataan dan amunisi. Di bawah pemerintahan Gubernur Jacques le Febre pada tahun 1627, disebutkan bahwa benteng yang terletak tidak jauh di atas bukit di sebelah Utara Benteng Malayo ini, dilengkapi dengan dua menara kecil.
Ketika itu benteng tersebut dipimpin oleh seorang Korporal yang didatangkan dari Benteng Malayo yang juga menjadi sumber pemasokan bahan pangan untuk 22 orang tentara yang bertugas di dalam Benteng Tolukko. Pada tahun 1661, Dewan Pemerintahan Belanda mengijinkan Sultan Mandarsyah dari Ternate untuk tinggal di dalam benteng ini bersama pasukannya. Menyusul kehadiran Sultan, maka garnizun Belanda di dalam Benteng Tolukko dikurangi hingga hanya 160 orang. Pada tanggal 16 April 1799, pasukan Kaicil Nuku (Sultan Tidore yang ke-19) menyerang benteng Tolukko tetapi mereka berhasil dipukul mundur oleh pasukan gabungan Ternate-VOC. Namun akibat pertempuran dan khususnya pengepungan yang berkepanjangan oleh pasukan Nuku, penduduk kota Ternate yang di bulan Juni 1797 berjumlah 3.307 jiwa, kemudian tinggal 2.157 jiwa.
 Yang lainnya meninggal akibat peperangan dan kelaparan atau melarikan diri ke Halmahera. Di bawah pimpinan Residen P. Van der Crab pada tahun 1864, benteng ini dikosongkan karena hampir seluruh bangunan sudah rusak. 1996. Dipugar kembali, tetapi upaya tersebut justru menghilangkan keaslian bangunan seperti dihilangkannya terowongan bawah tanah yang berhubungan langsung dengan laut [bentengindonesia.org]
benteng tolukko

Sulawesi Selatan: Wisata Sejarah Sinjai

Taman Purbakala Batu Gojeng berada di puncak Bulupoddo, Karangpuang. Di dalam kawasan wisata itu terdapat kuburan batu serta ditemukan berbagai jenis benda cagar alam budaya seperti, fosil kayu dan peti mayat serta keramik yang diperkiran berasal dari zaman Dinasty Ming.
Rumah Adat Karangpuang berada ditengah-tengah perkampungan tradisional tua di desa Tompobulu. Di tempat ini masyarakat setempat meyakini sebagai tempat pertemuan bangsawan Suku Bugis (Puang) dan Suku Makassar (Karaeng), sehingga dinamakan Rumah Adat Karampuang.
.
Air terjun Kembar, dengan ciri khas yang unik yaitu terdapat dua air terjun berdamping yang mengalir sepanjang tahun dengan ketinggian sekitar 50 meter berada diatas 800 meter dari permukaan laut dan dikelilingi bukit yang sangat menarik dan sejuk.
Air terjun tujuh tingkat di desa Lembang kecamatan Tellulimpue, sekitar 45 kilometer dari ibukota Sinjai. Obyek wisata ini, disebut air terjun tujuh tingkat karena debit air yang deras, kemudian jatuh ke bawah melewati tujuh tingkatan
Benteng Balanipa
Benteng Balanipa,Kabupaten Sinjai (utara).Lokasi Benteng ini berjarak 220,5 km dari kota makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Benteng ini di dirikan oleh salah satu aliansi dari kerajaan Lamatti,Bulo-Bulo dan Tondong yang lasim di sebut kerajaan TELLU LIMPOE. Benteng ini untuk melindungi kerajaan Tellu Limpoe yang rapu pada saat itu karena pertarungan yang sangat hebat antara kerajaan Gowa yang di mulai pada masa pemerintahan Raja Gowa ke 9 Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumapparisi Kallongna,dengan kerajaan kerajaan sekitarnya.Fungsi benteng ini dulunya sebagai pusat penumpasaan dan penahanan perampok yang berhasil ditngkap atas pemintaan Kerajaan Bone.
Benteng Balanipa. Bangunan benteng dengan arsitektur khas Eropa awal abad 19 ini masih berdiri kokoh, dan dimanfaatkan sebagai kantor Dinas Pariwisata. Bangunan ini berdinding tebal dan memiliki ruang-ruang tahanan

Maluku: Istana Kesultanan Ternate

Re-exposure of 21 
Istana Kesultanan Ternate terletak di dataran pantai di Kampung Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Provinsi Maluku Utara. Letak Istana Kesultanan Ternate tidak jauh dari pusat kota
Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur nusantara sejak abad XIII hingga abad XVII. Di masa keemasannya, yakni pada abad XVI, kekuasaan kesultanan membentang mulai dari seluruh wilayah di Maluku, Sulawesi Utara, kepulauan-kepulauan di Filipina selatan, hingga kepulauan Marshall di pasifik.
Pada tanggal 7 Desember 1976, Istana Kesultanan Ternate dimasukkan sebagai benda cagar budaya. Para ahli waris Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Muda Mudzafar Syah, menyerahkan istana kesultanan ini kepada Pemerintah Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dipugar, dipelihara dan dilestarikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Istana ini dipagari oleh dinding berketinggian lebih dari 3 meter, yang menyerupai benteng. Di lingkungan istana ini juga terdapat komplek pemukiman raja dan keluarganya, dan komplek makam para pendahulu kesultanan. Istana bergaya Eropa yang menghadap ke arah laut ini, berada dalam satu komplek dengan mesjid kesultanan yang didirikan oleh Sultan Hamzah, Sultan Ternate ke-9.
Desain interior istana penuh dengan hiasan emas. Di ruang kamar bagian dalam terdapat peninggalan pakaian dari sulaman benang emas yang mewah, perhiasan-perhiasan dari emas dan kalung raksasa dari emas murni, mahkota, kelad bahu, kelad lengan, giwang, anting-anting, cincin, dan gelang yang hampir kesemuanya terbuat dari emas. Hal ini merupakan indikator bahwa Kesultanan Ternate pernah mengalami masa kejayaan.
Di samping itu, istana megah ini juga menyimpan, merawat dan memamerkan benda-benda pusaka milik kesultanan, seperti senjata (senapan, meriam kecil, peluru-peluru bulat, tombak, parang dan perisai), pakaian besi, pakaian kerajaan, topi-topi perang, alat-alat rumah tangga, dan naskah-naskah kuno (Al-Quran, maklumat, dan surat-surat perjanjian).
Tidak jauh dari istana, terdapat warung-warung yang berjualan cinderamata dan makanan khas Maluku Utara seperti, papeda (sagu), ketam kenari, halua kenari, bagea, serta ikan hasil olahan, seperti ikan fufu ( ikan asap) dan gohu ikan

Maluku: Benteng Amsterdam

FortAmsterdam02 indostartrek 
Terletak di desa Hila, kira-kira 1 jam dengan mobil dari Ambon
Benteng Amsterdam merupakan bangunan tua yang sudah berusia ratusan tahun, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah penguasaan VOC di Ambon. Benteng ini terletak di tepi pantai yang sangat tenang dan indah, atapnya sudah terpasang rapi.  Warna merahnya mencorok.  Kontras dengan laut biru di belakang benteng.  Itu bukan atap asli.  Yang masih asli peninggalan Belanda dalam benteng ini adalah lantai batunya, tembok semen, dan kayu-kayu penopang beserta tangga menuju lantai atas.  Juga teras kayu di lantai dua.
Benteng Amsterdam menurut Francois Valentijn dalam buku ‘Beschrijving van Amboina’ (Tulisan tentang Ambon).  Gambar inilah yang jadi acuan renovasi benteng.   benteng ini dulu dibangun oleh Portugis pada tahun 1512 kemudian diambil alih oleh Belanda pada abad ke-17. 
Menurut booklet ‘Ambon Island’ , dikatakan bahwa benteng ini merupakan benteng kedua yang dibangun oleh Belanda, setelah benteng Kasteel Van Verre di dekat Seith hancur.
Benteng Amsterdam didirikan pada masa perdagangan rempah-rempah di awal abad ke – 17, setelah VOC – Vereenigde Oost Indische Compagnie – dibentuk oleh Heeren Zeventien di Belanda.  G.E. Rumphius pernah tinggal di benteng ini, menulis buku-buku tentang flora dan fauna Ambon. 
Georg Everhard Rumphius adalah seorang naturalis dan ahli sejarah dari Jerman (1627 – 1702).  Selain menulis tentang flora dan fauna Ambon, ia juga menulis tentang gempa dan tsunami yang melanda Maluku dalam bukunya yang berjudul ‘ Waerachtigh Verhael Van de Schrickelijcke Aerdbevinge’.  Gempa dan tsunami itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1674, mengakibatkan kerusakan parah desa-desa di pesisir utara Pulau Ambon dan bagian selatan Pulau Seram.  Buku-buku karya G.E. Rumphius bisa kita lihat di Perpustakaan Rumphius yang dikelola oleh Andreas Petrus Cornelius Sol MSC di komplek Pastoran Paroki Santo Franciscus Xaverius, Ambon.
Memasuki benteng, di dekat pintu masuk kita akan menemui prasasti dengan lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  Prasasti tersebut bertuliskan :
 BENTENG AMSTERDAM
Mulai Dibangun Oleh :  GERARD DEMMER Pada Tahun 1642
Kemudian diperluas dan diperbesar oleh : ARNOLD De VLAMING Van OUDS HOORN
Pada Tahun 1649 hingga Tahun 1656

Sulawesi Selatan: Tanjung Bira

Tanjung Bira merupakan pantai pasir putih yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan. Pantai ini termasuk pantai yang bersih, tertata rapi, dan air lautnya jernih.
Pantai Tanjung Bira sangat indah dan memukau dengan pasir putihnya yang lembut . Di lokasi ini baik untuk berenang, berjemur, diving dan snorkling. dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama, serta dapat menikmati keindahan dua pulau yang ada di depan pantai ini, yaitu Pulau Liukang dan Pulau Kambing.
 
Tanjung Bira terletak di daerah ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. atau sekitar 40 km dari Kota Bulu Kumba, atau 200 km dari Kota Makassar. yang dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum dengan waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3 atau 3,5 jam.
Kawasan wisata Pantai Tanjung Bira dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti restoran, penginapan, villa, bungalow, dan hotel . Di tempat ini juga terdapat persewaan perlengkapan diving dan snorkling .Bagi pengunjung yang selesai berenang di pantai, disediakan kamar mandi umum dan air tawar untuk membersihkan pasir dan air laut yang masih lengket di badan. Bagi pengunjung yang ingin berkeliling di sekitar pantai, tersedia persewaan motor  Di kawasan pantai juga terdapat pelabuhan kapal ferry yang siap mengantarkan pengunjung yang ingin berwisata selam ke Pulau Selayar

Sulawesi Selatan: Taman Nasional Taka Bonerate

Taman Nasional Taka Bonerate meliputi 15 buah pulau ,di Taman Nasional Taka Bonerate dapat dilakukan kegiatan menyelam, snorkeling, dan wisata alam / bahari lainnya. Lokasi Taman Nasional Taka Bonerate diKabupaten Selayar, Sulawesi Selatan. 
Pulau Karang Taka Bonerate
Taman Nasional Taka Bonerate memiliki karang atol terbesar ketiga di dunia yaitu setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva.
Luas atol tersebut sekitar 220.000 hektar, dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 500 km².
 Topografi kawasan sangat unik dan menarik, dimana atol yang terdiri dari gugusan pulau-pulau gosong karang dan rataan terumbu yang luas dan tenggelam, membentuk pulau-pulau dengan jumlah yang cukup banyak. Diantara pulau-pulau gosong karang, terdapat selat-selat sempit yang dalam dan terjal. Sedangkan pada bagian permukaan rataan terumbu, banyak terdapat kolam-kolam kecil yang dalam dan dikelilingi oleh terumbu karang. Pada saat air surut terendah, terlihat dengan jelas daratan kering dan diselingi genangan air yang membentuk kolam-kolam kecil.
Kunjungan terbaik pada bulan April s/d Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi: Menggunakan Angkutan Umum dari Makassar ke Bulukumba (153 km) kemudian ke pelabuhan Pamatata (kurang lebih 4 jam). Dari Pamatta dengan ferry sekitar dua jam, yang dilanjutkan ke Benteng sekitar 1,5 jam. Dari Benteng ke pulau terdekat yaitu Rajuni Kecil menggunakan kapal kayu sekitar lima jam.
Flora Dan Fauna
Keindahan Bawah laut Taka BonerateTumbuhan yang terdapat di daerah pantai adalah kelapa , pandan laut , cemara laut , dan ketapang.
Terumbu karang yang sudah teridentifikasi sebanyak 261 jenis dari 17 famili diantaranya Pocillopora eydouxi, Montipora danae, Acropora palifera, Porites cylindrica, Pavona clavus, Fungia concinna, dan lain-lain. Sebagian besar jenis-jenis karang tersebut telah membentuk terumbu karang atol (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). Semuanya merupakan terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.
Terdapat sekitar 295 jenis ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu (Epinephelus spp.), cakalang (Katsuwonus spp.), napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), dan baronang (Siganus sp.).
Sebanyak 244 jenis moluska diantaranya lola (Trochus niloticus), kerang kepala kambing (Cassis cornuta), triton (Charonia tritonis), batulaga (Turbo spp.), kima sisik (Tridacna squamosa), kerang mutiara (Pinctada spp.), dan nautilus berongga (Nautilus pompillius).
Jenis-jenis penyu yang tercatat termasuk penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu lekang (Dermochelys coriacea).
Berdasarkan cerita , bahwa penduduk yang bermukim di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate (Suku Bajoe dan Suku Bugis) berasal dari para awak kapal layar dan nelayan yang menyelamatkan diri dari gangguan para bajak laut maupun dari ganasnya gelombang laut Banda (di musim barat). Kepulauan Taka Bonerate yang terdiri dari 21 buah pulau termasuk gosong dan rengat sangat ideal untuk tempat berlindung.
Dewasa ini kepulauan tersebut telah berubah menjadi tempat tinggal/pemukiman. Hal ini disebabkan karena daerah ini kaya akan sumber daya alam laut. Penduduk yang menetap di kawasan ini terutama di Pulau Rajuni ,Pulau Tarupa ,Pulau Latondu ,Pulau Jinato, Pulau Passitalu Tengah , Pulau Passitalu Timur

Sulawesi Selatan: Pulau Samalona

Pulau Samalona dengan luas kurang lebih 3 Ha berada di perairan Selat Makassar , berjarak 7 Km dari Pantai Kota Makassar yang dapat ditempuh dengan perahu motor (transpotasi reguler).  
Pulau Samalona, merupakan salah-satu obyek wisata bahari di Sulawesi Selatan , Pantai Pulau Samalona ,indah dihampari pasir putih halus ,tempat berjemur, menikmati matahari terbit maupun terbenam, tempat menyelam melihat keindahan taman laut yang dihiasi berjenis ikan laut tropis dan tumbuhan serta karang laut. Serta menyimpan berbagai misteri kapal perang dan pesawat perang dunia II yang dapat dilihat pada kedalaman kurang lebih 30 mtr

Sulawesi Selatan: Pulau Khayangan

Pulau Khayangan , Pulau ini dulunya bernama Marrouw atau Meraux, adalah sebuah pulau kecil berpasir putih seluas sekitar 1 ha dan termasuk dalam wilayah Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar Sulawesi Selatan. 
Pulau Khayangan berjarak ± 0,8 km dari Kota Makassar, tidak jauh dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar dan bentang peninggalan Belanda Fort Rotterdam  , atau dapat ditempuh 15 menit perjalanan dengan menumpang perahu boat yang khusus disediakan bagi para pengunjung. . 
ph2240795500101364845 
Pulau Kayangan mempunyai beberapa fasilitas seperti tempat penginapan, resort/pondokan, panggung hiburan, restoran, gedung serba guna, tempat bermain bagi anak-anak, sarana olah raga, kolam renang dan anjungan memancing.
Di bagian lain terdapat sejumlah aquarium yang menampung beraneka ragam jenis ikan hias air laut. Daya tarik : Berenang, berjemur, panorama matahari terbenam (sunset), olah raga air, musik & pertunjukan, permainan anak-anak, akuarium

Sulawesi Selatan: Pantai Losari

Pantai Losari tampak dari pesawat sesaat sebelum mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Pantai Losari sangat indah ibarat untaian mutiara yang memagari gemerlapan Kota Makassar. Salah satu icon kota ini yaitu pantai losari.
Bersantai di Pantai Losari sambil menikmati terbenamnya matahari.
 
Sepanjang jalan dihiasi jajanan Pisang Epe, makanan ringan khas Makassar yang terbuat dari Pisang setengah bakar yang pipih ,diolesi gula merah cair dan ditaburi parutan kelapa muda.
Juga tersedia Aneka macam Es khas Makassar yaitu Es Pisang Ijo, Es Pallu Butung dan Mie Goreng Kering.
Kawasan Pantai Losari pada Sabtu malam dan Minggu pagi tertutup untuk kendaraan roda dua maupun roda empat, karena anjungan dan sekitarnya digunakan untuk even khusus seperti panggung hiburan malam dan senam pagi massal.

Sulawesi Selatan: Pantai Akarena

Pantai Akarena , obyek wisata pantai terletak sejajar dengan pantai losari, kurang lebih 1 Km kearah selatan, obyek wisata pantai akarena relatif masih baru dan dibuka untuk umum sampai dengan jam 22 malam.
Selain untuk menikmati pemandangan matahari terbenam sambil mandi di pantai yang sangat landai dan berpasir halus, juga dilengkapi fasilitas olah raga pantai seperti speed boat, volley pantai dan lain-lain, tempat bermain anak anak dan keluarga, kolam renang anak-anak dan tempat pemancingan ikan, arena motor cross, arena lomba / balapan permainan mobil kontrol.
 
Makanan ringan yang tradisional atau khas makassar sampai dengan masakan sesuai selera disiapkan didalam kawasan wisata akarena ini. Setelah mata hari terbenam, masih nampak beberapa pasangan muda mudi baik yang duduk berduaan diatas bebatuan atau di dalam mobil..sambil menikmati hembusan angin mamiri , bercerita tentang apa saja dan mencicipi ” Pisang Epe ” makanan tradisonal khas Makassar.
Bersebelahan Lokasi ini terlihat GTC , Pusat perbelanjaan terbesar , terindah dan megah di kawasan Indonesia Timur.
Dan 100 meter kearah utara telah dibangun Trans Studio Makassar , Wahana Hiburan dalam ruangan terbesar di Dunia.
Sekitar Kawasan wisata ini banyak ditemukan empang air tawar yang ramai dikunjungi oleh mereka yang hobbi memancing gratis.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes